Undercontruction-kritik dan saran silakan email ke buddhakkhetta@yahoo.com Undercontruction-kritik dan saran silakan email ke buddhakkhetta@yahoo.com Undercontruction-kritik dan saran silakan email ke buddhakkhetta@yahoo.com
HOME . ABOUT BUDDHAKKHETTA . CONTACT US. GUEST BOOK . LINKS . DANA ANDA
  Search Buddhakkhetta
Selamat datang Logout .
Tipitaka - SEJARAH TIPITAKA - KITAB SUCI AGAMA BUDDHA
KITAB SUCI AGAMA BUDDHA

KITAB SUCI AJARAN BUDDHA

 

Kitab-kitab suci Ajaran Buddha ada yang tersusun secara sistematis, baik dalam bentuk asli maupun terjemahan, tertulis dalam bahasa PāỊi, Sansekerta, Tibet, dan China serta dalam bahasa-bahasa lain di mana Ajaran Buddha berkembang.

Kitab-kitab Tipiaka PāỊi adalah kitab-kitab yang tertua serta terlengkap. Kitab Tipiaka sebagai kitab suci Ajaran Buddha tersusun dalam tiga keranjang, yakni :

01.  Vinaya Piaka (Peraturan Sagha)

02.  Sutta Piaka (Khotbah Buddha)

03.  Abhidhamma Piaka (filsafat dan metafisika)

 

Di samping kitab-kitab suci yang berbahasa PāỊi juga dijumpai kitab-kitab yang bukan memakai bahasa PāỊi, misalnya : Milinda Pañha, Netti Pakaraa, Aṭṭhakathā (komentar) karya Buddhadatta tentang Tipiaka PāỊi, Jātaka (oleh Buddhaghosa atau Dhammapāla, kitab-kitab dari Sri Langka seperti Dipavasa, Mahāvasa dan CūỊavasa). Termasuk kitab berbahasa PāỊi adalah tata bahasa yang disusun oleh Kaccyana dan Moggallana, Rupasidbhi dan Saddaniti. Kitab karangan Buddhaghosa, yakni Visuddhimagga.

 

Pada waktu itu tidak ditemukan kitab-kitab berbahasa Sansekerta yang lengkap dan terpelihara baik seperti kitab-kitab PāỊi. Namun dapat dikemukakan bahwa kitab­-kitab dari Aliran Sarvāsti berisi kitab-kitab Nikāya dan 7 kitab Abhidhamma PāỊi. Sedangkan Aliran Mūlasarvāstivāda memiliki kitab Vinaya.

Kitab-kitab dalam bahasa Sansekerta, baik yang asli maupun turunan memberikan gambaran beberapa materi (isi) yang tersendiri dari aliran-aliran Hīnayāna dan Mahāyāna. Kitab Mahāvāstu berisi Vinaya dari aliran Lokuttaravāda dari Mahāsanghita, tetapi isi tersebut sangat beraneka-ragam jika dibandingkan dengan isi dari kitab Dīgha, Majjhima, dan Suttanipāta serta Jātaka.

Kitab Lalitavistāra berisi biografi yang tidak lengkap dari Buddha, ditulis dalam bahasa Sansekerta campuran dan merupakan pegangan dari Mahāyāna serta membentuk bagian dari Vaipulya Sūtra. Asvaghosa terkenal dengan kitab Buddhacarita, sedangkan Saundarannandan dan Aryasura terkenal dengan kitab Jātaka Mala.

Di antara beberapa Sutra Mahāyāna, 9 naskah dianggap sangat penting seperti Astasahasrika Prajñāparamitha, Sad Dharmapundarika, Lalitavistāra, Lankavastāra, Suvarna Prabhasa, Ganhavyuha, Tathāgata Guhyaka, Samadhiraga dan Dasabhumisvara. Semua ini disebut Vaipulya sūtra.

Nagarjuna, Vasubandhu dan Asanga adalah penulis-penulis karya-karya filsafat  dari Mahāyāna.

Di Tibet juga dijumpai suatu koleksi besar terjemahan kitab-kitab India yang berjumlah lebih dari 4.566 buah. Kitab-kitab ini terbagi menjadi 2 kelompok besar, masing-masing disebut Bhak hgyur (Kanjur) terdiri dari 3.458 naskah. Yang pertama (kanjur) terbagi ke dalam 7 bagian, yakni :

01.  Vinaya

02.  Prajñā Paramitha

03.  Buddhavatamsaka

04.  Ratnakuta

05.  Sūtra

06.  Nirvāa

07.  Tantra

 

Studi tentang naskah-naskah India bermula dari kedatangan bangsa-bangsa barat yang telah menguasai daerah jajahan baru di Asia, termasuk India. Di Jepang, sebelum zaman restorasi kaisar Meijin atas usaha seorang bhiku, Jiun Sonja (1718-1804) telah merintis studi tentang naskah-naskah Sansekerta dengan membandingkan naskah-naskah dalam bahasa Jepang maupun China.

Penelitian yang lebih mendalam atas naskah-naskah Sansekerta di Jepang dilakukan oleh Bunyiu Nanjio (1849-1927) yang pernah belajar di Oxford, Inggris serta pada tahun 1883 menerbitkan katalog tentang kitab suci Tipiaka. Sekembalinya ke Jepang, Beliau memperdalam pengetahuan tentang bahasa Sansekerta pada universitas Otani dan Tokyo. Usaha-usaha yang dirintis oleh Nanjio dilanjutkan oleh Junjiro Takasusu (1866-1945) dan mereka mencatat 1.662 naskah yang diklasifikasikan menjadi 4 bagian :

01.  Sutta Piaka

02.  Vinaya Piaka

03.  Abhidhamma Piaka

04.  lain-lain.

 

Katalog yang dibuat belakangan oleh Hoborigin menyebutkan jumlah 2.184 naskah yang dicetak pada 55 volume dari edisi Taisho. Pada 25 volume yang lain terdapat naskah tambahan dalam bahasa China dan Jepang. Di Jepang dijumpai tiga terjemahan lengkap dari Tipiaka China termasuk tambahan 25 volume pada edisi Tipiaka dan Taiso. Dalam bahasa Manchuria dijumpai terjemahan serupa sedangkan kitab Tanjur dari Tibet diterjemahkan ke dalam bahasa Mongolia.

Pembahasan ini dibatasi dengan menguraikan tiga hal mengenai kitab-kitab Ajaran Buddha, masing-masing terdiri dari :

01.  Riwayat hidup Buddha Gotama

02.  Ajaran Buddha Gotama (Dhamma

03.  Peraturan-peraturan kebhikkhuan (Vinaya)

 

Riwayat Hidup Buddha Gotama

Kehidupan Buddha merupakan hal yang menarik untuk para penulis. Ada lima kitab yang berisi biografi tentang Buddha:

01.  Mahāvāstu dari Mahāsanghika (Lokuttaravāda)

02.  Lalitavistāra dari Sarvāstivāda (dalam bahasa Sansekerta campuran)

03.  Buddhacarita disusun oleh Asvaghosa (dalam bahasa Sansekerta murni)

04.  Nidānakathā (dalam bahasa PāỊi) sebagai pengantar dari Jātaka

05.  Bhiniskramanasūtra dari Dharmagupta

 

Dua di antara lima biografi Buddha tersebut di atas yang memiliki sistematik yang terbaik adalah kitab Lalita-vistāra dan Kitab Mahāvāstu.

Di samping melalui kitab-kitab di atas, kehidupan Buddha juga didapati pada kitab suci Vinaya (PāỊi dan Sansekerta) dan Nikāya. Mahāpadāna Sutta mengisahkan tentang kisah para Buddha terdahulu  khususnya kisah Buddha Vipassī yang memiliki banyak kemiripan dengan Buddha Gotama. Ariya-Pariyesana-sūtra menceritakan kejadian-kejadian sejak pencapaian Bodhisatta hingga khobah-Nya yang pertama; sedangkan Mahāparinibbāna Sutta memberikan gambaran tentang perjalanan terakhir dari Buddha, kremasi dan pembagian relik serta abu jenazah Beliau. Hal-hal yang sama dapat dijumpai pula dalam Suttanipāta, Apadāna dan Mahāvasa.

Karya puitis yang belakangan ditemukan dalam bahasa PāỊi yaitu Mahābodhivasa berisi legenda mengenai 24 Buddha, dari masa Buddha Gotama masih sebagai Bodhisatta.

Gambaran penyebaran Dhamma dari Buddha selama 45 tahun dapat dibaca dari kitab-kitab Jātaka dan sutta-sutta dari lima Nikāya maupun Vinaya Piaka.

 

Kitab Mahāvāstu

Kitab ini memiliki 1.325 halaman dalam bahasa Sansekerta campuran. Kitab ini adalah kitab pertama dari Vinaya Piaka dari aliran Lokuttaravāda, suatu cabang dari Mahāsanghika. Mahāsanghita adalah kelompok bhikkhu yang pertama kali memisahkan diri dari Sthaviravāda (Theravāda) pada kira-kira satu abad setelah wafatnya Buddha.

Mereka pada umumnya berdiam di Vesāli dan aliputta yang kemudian pindah ke Amaravatī dan Nagarjunakonda di daerah Guntur dari negara Andhra. Dari gaya bahasa dan komposisinya, kitab Mahāvāstu diperkirakan telah ditulis lebih awal dari abad ke satu atau kedua sebelum masehi.

Banyak para sarjana yang berpendapat bahwa kitab ini cukup membingungkan, khususnya yang menyangkut fakta-fakta sejarah.

 

Kitab Nidānakathā

Kitab ini adalah kitab biografi Buddha Gotama dalam bahasa PāỊi dan sekaligus merupakan suatu pengantar dari komentar Jātaka. Penulis sesungguhnya tidak dicantumkan meskipun penulis menyebut tiga bhikkhu, yaitu : Attadassi, Buddhamittha dari sekte Mahisasaka dan Buddhadeva seorang bhikkhu yang cemerlang yang memberikan inspirasi kepada mereka untuk menulis komentar kitab Jātaka.

Penulis Nidānakathā membagi biografi ke dalam beberapa bagian, yakni kehidupan Bodhisatta dari masa Buddha Dīpakarā sampai kelahiran-Nya sebagai dewa di Tusita yang ditempatkan di Dure Nidāna, sementara Bodhisatta turun dari surga Tusita sampai kelahiran-Nya  yang terakhir di Buddhagayā (Avidure Nidāna). Kehidupan awal sebagai Buddha sampai berjumpa dengan Anāthapiṇḍika dan Visakha di Sāvatthī termasuk dalam Santike Nidāna.

Dure Nidāna dimulai dengan riwayat Brāhmaa Sumedhā. Brāhmaa Sumedhā lahir di Amaravatī dari keluarga Brāhmaa yang kaya. Sumedhā mempelajari ilmu ke-Brāhmaa-an dan tidak puas dengan kekayaan yang diwariskan oleh orang tuanya. Beliau hidup dengan menerima dāna dan menjadi seorang petapa yang mencari Amatamahānibbāna yang bebas dari kelahiran dan kematian, kesenangan dan kesusahan, sakit dan penderitaan.

Beliau menyadari bahwa segala sesuatu yang ada di dunia mempunyai dua aspek, positif dan negatif, dan untuk menghindarkan kelahiran, haruslah ada sesuatu yang tidak dilahirkan. Beliau memutuskan untuk mewujudkan hal tersebut dan pergi ke Pegunungan Himalaya kemudian memilih Gunung Dhammika untuk tempat bermeditasi. Beliau hidup dari buah-buahan yang jatuh dari pohon. Beliau dengan segera mencapai kesempurnaan dalam lima kekuatan (Abhiññā) dalam meditasi tersebut.

Pada masa itu, Buddha Dīpakarā tiba di kota Rammāvatī, di perbatasan negeri beliau berhenti di vihāra Sudassana. Petapa Sumedhā melihat para penduduk membersihkan dan merapikan tempat masing-masing untuk menyambut kedatangan Buddha. Beliau pun ikut memperbaiki jalan yang akan dilalui Buddha Dīpakarā.

Saat melihat kedatangan Buddha Dīpakarā, petapa Sumedhā sangat tertegun dengan keagungan Buddha dan ingin bertiarap di depan Buddha, sehingga kaki Buddha dan para Arahat yang mengikuti-Nya tidak kotor karena tanah. Dengan bertiarap, beliau berkeinginan agar dapat mencapai pembebasan dan menjadi Buddha sehingga dapat menolong banyak makhluk dari arus kelahiran.

Buddha Dīpakarā bersabda bahwa petapa Sumedhā akan menjadi Buddha setelah empat Asakhyeyya dan seratus ribu kappa sejak saat itu serta menjelaskan di mana Beliau akan terlahir dan bagaimana mencapai penerangan. Sabda tersebut disertai dengan kejadian-kejadian yang ajaib termasuk gempa bumi dan tidak diragukan lagi bahwa petapa Sumedhā adalah Buddha-bījankura, Buddha yang akan datang. Beliau juga menyadari kenyataan tersebut dengan pengetahuan tertinggi (Abhiññā) dan akan mencapai sepuluh kesempurnaan (Pāramī) yang diperlukan oleh Bodhisatta untuk mencapai tingkat ke-Buddha-an.

Setelah Buddha Dīpakarā, Buddha Koṇḍañña tiba di kota Rammāvatī. Pada waktu itu Bodhisatta dilahirkan kembali sebagai Raja Vijitāvī dan memberikan banyak persembahan kepada Buddha dan Sagha. Beliau mendengarkan sabda dari Buddha Koṇḍañña dan mempelajari ketiga Piaka, menguasai delapan macam meditasi (Samāpatti) dan memperoleh kekuatan-kekuatan tertinggi (Abhiññā). Setelah meninggal dunia, Beliau terlahir di Brahmaloka.

 

Ajaran Buddha (Dhamma)

Sutta Piaka (PāỊi)

Ajaran-ajaran Buddha dijumpai dalam kitab-kitab Sutta Piaka yang terdiri dari Dīgha, Majjhima, Sayutta, Aguttara, dan Khuddaka. Pengelompokkan Sutta-sutta dalam Nikāya-nikāya tersebut di atas tidaklah berdasarkan suatu patokan tertentu. Sebagaimana Vinaya, maka Sutta-sutta ini pada awalnya belum ditulis melainkan diteruskan dari waktu ke waktu oleh para bhikkhu dari mulut ke mulut.

Dīgha Nikāya terdiri dari tiga buku yang terbagi atas 34 Sutta (sekitar 16 di antaranya merupakan Sutta panjang). Buku pertama dari Dīgha terdiri dari :

01.  Brahmajāla Sutta

02.  Sāmaññaphala Sutta

03.  Ambaṭṭha Sutta

04.  Soadaṇḍa Sutta

05.  adanta Sutta

06.  Mahāli Sutta

07.  Jāliya Sutta

08.   Mahāsīhanāda Sutta

09.  Poṭṭhapāda Sutta

10.  Subha Sutta

11.  Kevaddha Sutta

12.  Lohicca Sutta

13.  Tevijja Sutta

 

Buku ke-dua dari Dīgha Nikāya terdiri dari Sutta-sutta yang sebagian besar mempunyai nama dengan kata ”Mahā” di depannya, yakni :

01.  Mahāpadāna Sutta

02.  Mahānidāna Sutta

03.  Mahāparinibbāna Sutta

04.  Mahāsudassana Sutta

05.  Janavasabha Sutta

06.  Mahāgovinda Sutta

07.  Mahāsamaya Sutta

08.  Sakkapañha Sutta

09.  Mahāsatipaṭṭhāna Sutta

10.  Pāyāsi Sutta

 

Buku ke-tiga terdiri dari 11 Sutta di mana 4 Sutta pertama membahas pandangan yang bukan merupakan ajaran Buddha dan praktek petapa. Sutta-sutta pada buku ke-tiga terdiri dari :

01.  ika Sutta

02.  Udumbarika-Sīhanadā Sutta

03.  Cakkavati-Sīhanadā Sutta

04.  Agañña Sutta

05.  Sampasādanīya Sutta

06.  Pāsādika Sutta

07.  Lakkhaa Sutta

08.  Sigālaka Sutta

09.  Āānāiya Sutta

10.  Sangīti Sutta

11.  Dasuttara Sutta

 

 

Dhammapada

Dhammapada sangat populer bukan saja di negera-negera Buddhis. Dhammapada berisi pokok-pokok pikiran yang universal, terdiri dari 423 syair yang dikelompokkan dalam 26 Vagga. Dhammapada sering disebut berisi intisari ajaran Buddha, karena memuat pokok-pokok pikiran filsafat Buddha dan pandangan hidup Buddha.

 

Saddharma Pundarika (Sansekerta)

Kitab Saddharma Pundarika adalah salah satu kitab Mahāyāna awal. Sebagian berbentuk prosa dan sebagian lainnya berbentuk syair. Yang berbentuk prosa disusun dalam bahasa Sansekerta murni, sedangkan yang berbentuk syair dalam bahasa Sansekerta campuran. Berdasarkan isi pandangan terhadap Buddha dan sifat linguistiknya, kitab ini diperkirakan ditulis sesudah Mahāvāstu dan Lalitavistāra yaitu sekitar abad pertama masehi.

Kitab Saddharmapundarika diterjemahkan ke bahasa China oleh Dharmaraksa (286) dan Kumarajiva (383). Dua abad kemudian, kitab itu diterjemahkan kembali oleh Jnanagupta dan Dharmagupta (601).

Kitab Saddharmapundarika ini merupakan kitab pegangan dari beberapa aliran Ajaran Buddha di China dan Jepang (Tendai, Nichiren, dan Zen/Dhyāna).

Isi kitab Saddharmapundarika mewaliki masa transisi perubahan aliran Hīnayāna (Theravāda) ke Mahāyāna. Sebagian besar isinya memberikan gambaran bahwa Ajaran Buddha Hīnayāna diajarkan oleh Buddha untuk umat awam yang tidak memperdalam masalah kebenaran. Aliran Hīnayāna mengajarkan pelaksanaan 37 Bodhipakkhiya Dhamma yaitu Dhamma untuk mencapai penerangan batin.

Saddharmapundarika terdiri dari 27 bab. Beberapa bab permulaan akan dibicarakan dibawah ini.

Bab pertama berisi Mahāvipulya-sūtra yaitu sabda-sabda dari para Buddha yang disampaikan oleh Buddha Dīpakarā kepada Varaprabha Bodhisatta (yang kemudian terlahir kembali sebagai Mañjusri).

Bab dua, Buddha menunjukkan bahwa kebenaran tertinggi dapat dicapai oleh para Tathāgata dengan kekuatan sendiri dan tidak dapat diajarkan kepada pihak lain. Selain para Paccekabuddha, para Bodhisatta juga berdiam di alam yang tertinggi.

Bab ketiga dan keempat memuat riyawat yang sangat menarik dan mengambarkan Buddha yang welas asih, tidak dapat meninggalkan semua manusia sebelum memperoleh kesejahteraan.

Bab lima mengibaratkan Buddha sebagai awan dan matahari yang menghujani dan menyinari siapa saja tanpa pengeculian.

Nirvāa dijelaskan sebagai pencapaian dari kesamaan dari semua obyek.

 

Peraturan-peraturan ke-bhikkhu-an (Vinaya Piaka)

Seluruh peraturan yang merupakan tata tertib para bhikkhu dan bhikkhuni terdapat dalam kitab Vinaya Piaka. Sagha terbentuk atas pemikiran yang demokratis. Buddha tidak menunjuk pengganti dan menginginkan para siswa atau pengikut-Nya melaksanakan hal-hal dan kewajiban seperti yang diajarkan. Vinaya Piaka sebagaimana yang dijumpai sekarang adalah hasil perkembangan berabad-abad dari aturan-aturan dasar yang ditetapkan oleh Buddha.

Kitab Vinaya Piaka PāỊi terdiri dari lima bagian dan dikelompokkan ke dalam :

A. Khandhaka           :           1. Mahāvagga

2. CūỊavagga

B. Suttavibhaga      :           3. Mahāvibhaga

                                                4. CūỊavibhaga

C. Parivāra                :           5. Parivāra

 

Pembagian dan pengelompokkan tersebut memperlihatkan perkembangan Sagha tetapi tidak menggambarkan kronologi perkembangan kitab-kitab itu.

Baik dari isi maupun bentuk bahasa PāỊi yang dipergunakan, dapat diduga bahwa Paimokkha merupakan bagian awal. Sedangkan suttavibhaga ditulis atau dimasukkan kemudian. Mahāvagga menggambarkan perkembangan Sagha sehingga termasuk bagian awal dari kitab ini. CūỊavagga berisi banyak topik yang seharusnya merupakan penutup daripada Piaka. Saghayāna yang kedua juga disebut dalam kitab Vinaya Piaka.

Paimokkha adalah pokok atau inti dari Vinaya Piaka. Pada kitab PāỊi, Paimokkha adalah merupakan yang tertua daripada Nikāya. Paimokkha dalam naskah Sansekerta yang lengkap telah dikemukakan dalam dua versi, pertama di Kuca dan diterbitkan tahun 1913, dan yang kedua di Gilgit diterbitkan tahun 1953.

Paimokkha terdiri dari dua bagian yaitu Bhikkhu Paimokkha dan Bhikkhuni Paimokkha, Yang keduanya mengolongkan pelanggaran dalam delapan kelompok. Kelompok pertama mengatur pelanggaran yang menyebabkan seorang bhikkhu di keluarkan dari Sagha, yaitu pelanggaran-pelanggaran seksual, pencurian, pembunuhan dan pembujukan untuk bunuh diri, kesombongan palsu akan kemampuan gaib.

Seluruh aturan dalam Paimokkha ini berjumlah 227 sila yang dikelompokkan ke dalam 8 bagian :

01.  Pārājika (4 Sila)

02.  Saghādisesa (13 Sila)

03.  Aniyata (2 Sila)

04.  Nissaggiya Pācittiya (30 Sila)

05.  Pācittiya (92 Sila)

06.  Pātidesanīya (4 Sila)

07.  Sekhiya (75 Sila)

08.  Adhikaraasamatha (7 Sila)

 

Vinaya ditetapkan menurut sebab yang disebut dan Pakaraa (asal mula dan cerita), tidak ditetapkan sebelumnya tanpa suatu sebab yang menimbulkannya. Apabila suatu perbuatan tercela terjadi oleh perbuatan salah bhikkhu, maka Buddha menetapkan peraturan latihan. Demikian pula, Abhisamācāra ditetapkan dengan cara yang sama.

Peraturan latihan yang ditetapkan sebagai hukuman merupakan adhibrahmacariyaka-sikkhā (latihan lebih tinggi dalam tingkah laku benar). Bagian yang pertama berisikan Paimokkha yang diperkenankan oleh Buddha untuk dibacakan setiap dua minggu sekali, sedangkan yang kedua adalah di luar Paimokkha kecuali Sekhiyavata (75 latihan) yang terdapat dalam Paimokkha.

Pelanggaran atas peraturan latihan yang menyebabkan seorang bhikkhu mendapatkan hukuman disebut Āpatti.

Ditinjau dari akibatnya, Āpatti terbagi menjadi dua macam :

01.  Atekicchā, merupakan pelanggaran yang tidak dapat diperbaiki lagi dan menyebabkan seorang bhikkhu terkalahkan, harus ke luar dari ke-bhikkhu-an (lepas jubah) dan tidak dapat ditahbiskan menjadi bhikkhu lagi sepanjang sisa hidupnya, merupakan pelanggaran berat (garukāpatti) yang terdiri dari atas pelanggaran 4 Pārājika (melakukan hubungan kelamin, mencuri, membunuh, berbohong dengan menyatakan diri mempunyai kesaktian yang sebenarnya tidak dimilikinya).

02.  Pelanggaran ringan (Lahukāpatti), untuk pembersihannya bhikkhu yang bersangkutan harus mengakui kesalahannya di hadapan seorang bhikkhu (atau lebih) dan mempunyai kategori berbeda-beda dari yang lebih berat sampai yang paling ringan :

- Thullaccaya

- Pācittiya

- idesanīya

- Dukkata

- Dubbhāsita

 

 

Sumber         

Materi Kuliah Sejarah Perkembangan Agama Buddha, Tim Penyusun, CV.Dewi Kayana Abadi Jakarta.

 

  R A T I N G :  
  dari suara  
Total Komentar : 0
2009 buddhakkhetta.com